Kamis, 29 Maret 2012

bab 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah
Keberadaan mahasiswa memberikan peranan penting untuk ikut memajukan olahraga bulutangkis yang ada di Indonesia. Mahasiswa memiliki kemampuan intelektual dan jaringan komunikasi yang mampu memberikan pencerahan dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing (Arma abdoelah 1981:26). Fakultas Ilmu Keolahragaan yang sekarang ini telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, membutuhkan pengembangan yang lebih luas guna menciptakan insan olahraga yang berprestasi.
Universitas Negeri Semarang merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di kota Semarang. Terdapat berbagai macam jurusan, diantaranya jurusan PJKR (Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi), IKOR (Ilmu Keolahragaan), IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat), dan PKLO (Pendidikan Kepelatihan Olahraga). Fakultas Ilmu Keolahragaan adalah salah satu jurusan yang mendidik para atlet-atlet dari berbagai macam cabang olahraga. Tetapi tidak menutup kemungkinan mahasiswa yang bukan atlet juga bisa menempuh jenjang pendidikan ini. Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga sendiri memiliki fasilitas yang sangat memadai, diantaranya perpustakaan, ruangan kelas, laboratorium, lapangan berbagai cabang olahraga dan alat-alat yang digunakan untuk perkuliahan mahasiswa.

Mahasiswa Jurusan PKLO (Pendidikan Kepelatihan Olahraga) FIK (Fakultas Ilmu Keolahragaan) Universitas Negeri Semarang dituntut untuk dapat menguasai ilmu yang lebih mendalam tentang salah satu cabang olahraga. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk memilih salah satu cabang olahraga yang kelak menjadi spesialisasinya, maka pada pertengahan proses perkuliahan diberikan kesempatan untuk mengambil mata kuliah Ilmu Kepelatihan Khusus. Ilmu Kepelatihan Khusus untuk cabang olahraga bulutangkis disebut Ilmu Kepelatihan Khusus Bulutangkis.
Mahasiswa yang menempuh mata kuliah Ilmu Kepelatihan Khusus bulutangkis dituntut untuk menjadi seorang pelatih pada cabang olahraga bulutangkis. Tugas seorang pelatih bulutangkis adalah membentuk atau membina atlet bulutangkis agar berkembang secara optimal yang meliputi kesehatan fisik, mental bermain, spiritual dan sosial. Pelatih juga dapat meningkatkan keterampilan motorik dan prestasi atlet, perilaku yang etis, moral yang baik, kepribadian serta respek terhadap atlet lain, Harsono (1988:3-4).
Menurut Harsono (1988:7-9), pengetahuan yang terperinci tentang cabang olahraga bulutangkis, baik segi teknik dalam permainan bulutangkis, taktik, peraturan pertandingan, sistem-sistem latihan maupun segi penyerangan dan pertahanan adalah mutlak harus dikuasai oleh seorang pelatih bulutangkis. Prestasi maksimal seorang atlet bulutangkis tergantung sebatas mana pengetahuan yang dimiliki dan dikuasai oleh pelatihnya.
Pelatih haruslah terampil dan tangkas melakukan permainan bulutangkis, sehingga sewaktu-waktu sanggup untuk mendemonstrasikan gerakan-gerakan yang penting dan sukar dimengerti oleh atlet apabila diterangkan secara verbal, Harsono (1988:7). Teknik dasar dalam permainan bulutangkis mutlak dikuasai oleh seorang pelatih agar dapat memperagakan dan memberikan contoh kepada atlet dan dapat ditiru oleh atletnya. Tingkat penguasaan teknik dasar bermain bulutangkis seorang pelatih sangatlah penting, hal ini digunakan untuk memberi keyakinan kepada atlet yang dilatihnya bahwa pelatih tersebut dapat mengajarkan dan membimbing untuk mencapai prestasi puncaknya.
Rangkaian dari berbagai teknik dasar bermain bulutangkis tersebut apabila di praktekkan dalam suatu permainan dapat membentuk suatu kecakapan bermain bulutangkis. Tingkat kecakapan bermain bulutangkis seorang pelatih merupakan cerminan dari penguasaan dari teknik dasar bermain bulutangkis. Apabila seorang pelatih memiliki kecakapan bermain bulutangkis yang buruk maka dapat di lihat bahwa tingkat penguasaan teknik dasar bermain bulutangkisnya buruk juga. Untuk menjadi seorang pelatih yang profesional jadi harus memiliki kecakapan bermain bulutangkis yang baik sehingga dapat di tiru oleh atlet.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul sebagai berikut, ”Tingkat Kecakapan Bermain Bulutangkis Mahasiswa Ilmu Kepelatihan Khusus Bulutangkis II Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Tahun Ajaran 2007/2008”.
Alasan-alasan yang mendasari pemilihan judul skripsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.1.1        Kemampuan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Ilmu Kepelatihan Khusus bulutangkis merupakan kewajiban yang harus dipenuhi dan di laksanakan.
1.1.2        Sepengetahuan peneliti, penelitian tentang tingkat kecakapan mahasiswa Ilmu Kepelatihan Khusus bulutangkis belum pernah dilakukan di Fakultas Ilmu Keolahragaan khususnya pada Pendidikan Kepelatihan Olahraga.

1.2     Permasalahan
Suatu penelitian tidak mungkin lepas dari yang namanya permasalahan sebab permasalahan merupakan sesuatu yang akan diteliti, dianalisa, dan dipecahkan.
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat diajukan sesuatu permasalahan yang muncul dalam penelitian ini, sebagai berikut :
Apakah mahasiswa Ilmu Kepelatihan Khusus bulutangkis II Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang Tahun ajaran 2007/2008 mempunyai tingkat kecakapan yang baik?.

1.3     Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui tingkat kecakapan bermain bulutangkis mahasiswa Ilmu Kepelatihan Khusus bulutangkis II Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang  Tahun ajaran 2007/2008.

1.4     Penegasan Istilah
Untuk menghindari agar permasalahan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan dan tidak terjadi salah penafsiran istilah yang digunakan serta memberikan kesamaan pendapat yang digunakan, maka perlu adanya penegasan istilah-istilah sebagai berikut :
1.4.1        Tingkat
Tingkat adalah tinggi rendahnya martabat, kedudukan, jabatan, kemajuan, peradaban, dsb (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989: 980).
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tingkat adalah tinggi rendahnya atau baik tidaknya kemampuan atau kecakapan bermain bulutangkis pada mahasiswa Ilmu Kepelatihan Khusus bulutangkis II Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang Tahun ajaran 2007/2008.
1.4.2        Kecakapan
Menurut kamus besar Bahas Indonesia (1990: 553), kecakapan berasal dari kata dasar cakap mendapat imbuhan awalan ke- dan akhiran -an, berarti kesanggupan. Berasal dari kata dasar sanggup, mendapat imbuhan awalan ke- dan akhiran -an.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kemampuan adalah kesanggupan mahasiswa Ilmu Kepelatihan Khusus Bulutangkis II Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang Tahun ajaran 2007/2008 untuk melakukan tes kecakapan bermain bulutangkis dengan baik dan benar.
1.4.3        Bermain
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2005:698), bermain adalah melakukan sesuatu untuk bersenang-senang.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan Bermain adalah melakukan aktivitas olahraga bulutangkis dengan menggunakan peraturan yang ada.
1.4.4        IKK Bulutangkis
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan IKK Bulutangkis adalah Ilmu Kepelatihan Khusus Bulutangkis. Suatu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan yang memilih cabang ilmu bulutangkis.

1.5     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :
1.5.1.     Hasil penelitian ini memberikan sumbangan kepada mahasiswa IKK bulutangkis PKLO FIK UNNES tentang kecakapan bermain sehingga dapat melakukan koreksi dan meningkatkan prestasi.
1.5.2.      Penelitian ini bisa dikembangkan sebagai bahan perbandingan penelitian lain yang berminat untuk mengkaji ulang  penelitian ini.
1.5.3.      Semoga penelitian ini berguna bagi para dosen FIK UNNES yang akan mengembangkan penelitian tentang kecakapan bermain bulutangkis.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar